Chapter 10 : Panggil Aku Mas Rahmat

7.3K 255 20
                                        

Selesai makan siang, aku, Pak Rahmat dan keluarga Pak Toni kembali lagi ke area perkebunan yang akan dibeli oleh Pak Toni. Sepertinya urusan mereka dengan pemilik lahan belum selesai.

Waktu telah menunjukan pukul 5 sore saat Pak Rahmat menghampiriku. "Kita belum bisa kembali ke Jakarta Nant. Anak sulung Pak Asep, pemilik lahan ini besok baru tiba disini. Sementara kita memerlukan tanda tangannya" ucap Pak Rahmat.

"Jadi malam ini kita menginap di villa nya Pak Asep" Pak Rahmat melanjutkan penjelasannya.

"Iya Pak, tidak apa2 kok. Kebetulan besok saya juga tidak ada acara" padahal aku sudah ada janji joging dengan Ryan minggu pagi besok tapi ya sudah biar kukabari Ryan saja kalau aku masih di luar kota.

Villa Pak Asep terletak tidak jauh dari perkebunan yang akan dijualnya tersebut. Terdiri dari empat bangunan villa dan memiliki halaman yang luas. Villa Pak Asep mirip dengan mini cluster yang terdiri dari satu bangunan utama yang tampak lebih besar dari yang lainnya sementara tiga bangunan lain mengitarinya.

Pak Asep menginap di bangunan utama. Pak Toni dan keluarga di sisi kanannya. Sementara aku dan Pak Rahmat menginap di bangunan yang paling ujung, dekat dengan sungai.

Villa yang aku masuki rupanya memiliki ukuran yang lumayan luas. Ruang tamu dengan teras yang luas, ruang televisi, ruang makan, dapur tetapi hanya memiliki satu kamar tidur.

Interior kamar tidurnya benar-benar bernuansa tradisional khas daerah sunda. Kamarnya cukup luas dengan ukuran tempat tidur king size dan yang membuatku tersenyum adalah tempat tidur itu dikelilingi oleh kelambu berwarna putih transparan. Sudah lama sekali aku tidak melihat tempat tidur yang ada kelambunya. Sementara di dinding sebelah kanan kamar, terpampang lukisan abstrak yang ukurannya juga lumayan besar.

Setelah makan malam yang disediakan oleh Pak Asep selesai, kami mengobrol sebentar, berbasa basi kemudian kembali ke villa masing-masing.

"Kamu gak mandi Nant?" tanya Pak Rahmat ketika kami tiba di villa.

"Nanti dulu Pak, aku masih gerah nih" ujarku sambil duduk di sofa ruang televisi dan menyalakan tv nya.

"Ya sudah, aku mandi dulu ya. Oh iya, minta tolong ambilkan baju ganti di bagasi mobil ya. Baju gantimu bisa pakai punyaku" Pak Rahmat meminta tolong.

"Siap Pak Boss" jawabku sambil senyum lalu aku beranjak keluar menuju mobil.

Ketika aku keluar menuju mobil, pandanganku tertuju pada bangunan utama. Kulihat seorang lelaki sedang duduk merokok, memakai t-shirt putih dan kain sarung. "Sepertinya aku tidak asing dengan lelaki itu. Wajahnya seperti pernah aku lihat. Tapi dimana ya, lalu kenapa dia berada di villanya Pak Asep?"batinku.

Aku membuka bagasi mobil dan mengambil tas ransel milik Pak Rahmat. Ketika aku melihat ke villa utama kuperhatikan lagi lelaki itu dan yaaaah...aku ingat. Dia lelaki dibawah pancuran siang tadi. Deg...jantungku berdegup lagi, ingat kejadian pada saat dia sedang mandi. Ingat dengan lekuk tubuhnya, warna kulitnya, bentuk kemaluannya yang menggoda, ingat semuanya. Membayangkan kejadian siang tadi dan melihat dia berkain sarung sekarang membuat aku terkesima. Aku berhenti sebentar dan tanpa sadar aku melihat terus ke arahnya.

Sadar kalau ada yang memperhatikan, lelaki itu melepas rokoknya dan berdiri, berjalan pelan ke arahku. Duh...makin deg-degan saja aku.

"Punten Akang...Akang teh tamunya abah yang dari Jakarta ya?" tanya nya sambil senyum.

"Duh...eneng gak kuat Kang kalau didekati lelaki sambil senyum gitu. Apalagi pakai kain sarung, pasti gak pakai CD, iyakan?" bisikku dalam hati.

"Perkenalkan Kang... Saya Heru, putranya Pak Asep" sambil mengulurkan tangan.

          

"Salam kenal Kang, saya Nanta" jawabku menyambut uluran tangannya. Oh ternyata lelaki di pancuran tadi siang itu anaknya Pak Asep, pantas ganteng, seperti Bapaknya. Ya harus aku akui, Pak Asep lelaki tua itu memang terlihat ganteng diusianya yang tidak muda lagi.

Kami bersalaman. Keras dan kasar telapak tangan Heru. "Mungkin karena pekerjaan atau aktifitasnya" pikirku.

"Mampir atuh Kang Nanta, kita ngobrol-ngobrol" ajaknya santun.

"Iya Kang, terima kasih. Tapi saya mau mandi dulu nih. Sudah malam" jawabku.

"Mangga Kang, kalau ada butuh apa-apa jangan sungkan Kang. Hubungi saya aja di dalam"ucap Heru.

"Iya Kang Heru, pasti" jawabku. "

"Padahal sebenarnya aku butuh kehangatan dari Akang dan masih horny nih lihat Akang mandi tadi siang...hahaha" batinku dalam hati.

"Saya masuk dulu ya Kang" ucapku berpamitan.

"Mangga Kang Nanta" jawabnya.

Ketika aku masuk ke dalam kamar tidur berniat untuk menaruh ransel Pak Rahmat, kulihat Pak Rahmat baru saja keluar dari kamar mandi.

Tubuhnya hanya dililit handuk. Menempel dibagian pinggangnya. Dada nya yang berbulu lebat jelas terlihat, mengular sampai ke perut dan pusarnya.

"Ya Tuhan...kenapa cobaan-Mu datang silih berganti. Di luar sana ada Heru dengan kain sarungnya. Sementara di dalam sini, lelaki pujaan hatiku berdiri bertelanjang dada hanya mengenakan handuk saja" batinku kegirangan.

"Tolong tas nya Nant" Pak Rahmat mengagetkanku.

"Eh iya Pak, ini tasnya" jawabku sambil melirik kearah tonjolan di bagian bawah perutnya.

"Ya sudah kamu mandi sana. Pakai air hangat saja, biar gak dingin, itu ada heaternya" Pak Rahmat berbicara sambil menunjuk ke kamar mandi.

Guyuran air hangat membasahi tubuh putihku yang sedikit gempal maskulin ini. Tetesan air membuat aku merasa tenang, hilang rasanya penat di tubuh ini. Tapi aku masih merasakan birahi yang amat sangat sejak kejadian siang tadi, ditambah melihat Pak Rahmat dengan tubuh indahnya berbalut handuk tadi. Kuremas kemaluanku yang telah berdiri menantang. Kuremas beberapa kali...ah...nikmatnya tapi aku tidak mau mengakhirinya dengan onani.

Ketika aku selesai mandi, kulihat Pak Rahmat sudah duduk di sofa di ruang tv. Dia hanya memakai celana pendek warna merah dan kaus putih. Diatas meja sudah ada dua cangkir teh panas.

Aku menghampiri Pak Rahmat yang sedang menonton saluran berita dan duduk di sampingnya. Segar sekali badanku sehabis mandi ini.

"Diminum tehnya Nant, mumpung belum dingin"

"Iya Pak, terima kasih"

Sesaat kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang ada dalam kepala Pak Rahmat saat ini. Sedangkan pikiranku melayang kembali ke tiga bulan lalu saat pertama kali berkenalan dengannya, kedekatan kami yang aku anggap sebagai hubungan pertemanan semata, hingga ceritanya tentang adiknya, Indra.

Ya Indra lah salah satu alasan mengapa Pak Rahmat ingin kenal denganku. "Aku sangat mirip adiknya itu" ujarnya. Entah apakah ada alasan lain darinya aku tidak tahu.

Aku tidak mempedulikan itu, yang aku tahu aku sangat nyaman ketika berada di dekatnya. Perlakuan dan perhatian Pak Rahmat kepadaku persis seperti perhatian seorang kakak kepada adiknya. Aku yang merupakan anak tunggal, sama sekali tidak pernah merasakan perhatian seperti itu lagi. Ya, sejak kepergian Mas Danar 8 tahun lalu.

"Nanta..." ucap Pak Rahmat sambil matanya tetap mengarah ke televisi.

"Iya Pak" jawabku

"Maaf ya, saya sudah sering merepotkan kamu dan mengganggu waktu kamu" Pak Rahmat merubah posisi duduknya menghadapku. Pahanya yang berbulu halus itu makin jelas terlihat olehku ketika celana pendek merahnya ikut bergeser.

"Ah...gak apa-apa kok Pak" ujarku

"Aku boleh bicara jujur sama kamu Nant" tanya Pak Rahmat.

"Deg...ada apa ini. Aku sih berharap Pak Rahmat akan bicara romantis kepadaku atau malah menembakku untuk jadi someone specialnya...tapi mana mungkin...hahaha" pikirku dalam hati.

"Boleh Pak, memangnya kenapa"

Pak Rahmat menarik nafas sebentar. Suara beratnya mulai terdengar perlahan " Aku sangat merasa bersalah kepada Indra, adikku itu. Tidak seharusnya aku bersikap keras kepadanya hanya karena dia seorang homoseksual. Harusnya aku ada di dekatnya, hadir sebagai kakak laki-laki yang mendukungnya setelah kedua orang tua kami tiada, bukannya marah, berkelahi dan menjauhinya"

Aku terdiam mendengarkan ucapan Pak Rahmat, sambil serius memperhatikannya. Memperhatikan gerak bibirnya, rahangnya yang kokoh dan matanya yang indah.

"Tapi semua sudah terjadi dan Indra tidak akan kembali. Hanya saja ketika pertama kali aku melihat Nanta di Senayan sore itu, aku sangat rindu dengan Indra karena kamu sangat mirip dengannya"

"Rasa bersalahku timbul kembali setelah beberapa tahun aku coba berdamai dengan diriku" Pak Rahmat terus berbicara.

Ada kesedihan di ujung matanya ketika dia mengucapkan kata perkata itu.

"Tapi aku bukan Indra loh Pak" ucapku perlahan.

"Iya Nant, aku tahu"Pak Rahmat berkata lirih.

" Tapi dengan adanya Nanta di dekat aku, sudah cukup mengobati rasa rindu ku juga rasa bersalahku kepada Indra"ucapnya.

Aku terdiam, menunduk.

Tiba-tiba Pak Rahmat menggeser duduknya merapat menghadapku. Dipegangnya kedua tanganku sambil berkata "Kamu mau tidak menjadi adikku dan aku sebagai kakakmu"ucapnya sambil menatapku tajam. Aku terhipnotis dengan sorot matanya malam ini.

" Ah...Pak Rahmat, jangankan sebagai adik, sebagai isterimu saja aku mauuuuu...." pekikku dalam hati.

Aku mengangguk perlahan, mengiyakan permintaan Pak Rahmat.

Pak Rahmat tersenyum lalu menarikku dalam pelukannya.

Aku terkejut tapi aku diamkan saja, sudah lama aku menginginkan moment seperti ini. Dipeluk olehnya.

Lama aku berada dalam pelukannya, harum parfum dan keringatnya membuat aku betah berlama-lama dalam pelukan pria paruh baya ini.

Dalam pelukannya Pak Rahmat berbisik "Mulai malam ini, jangan panggil aku Bapak ya, panggil saja Mas...Mas Rahmat..." sambil dia mengusap kepalaku.

Aku terdiam dalam pelukannya dan mengangguk.

Aku benar-benar gembira sekaligus terbawa emosi malam ini. Lelaki yang sudah tiga bulan ini sering bersamaku, sekarang sedang memelukku.

"Ah Mas Rahmat...ada sisi lain dari diriku yang sama dengan Indra dan itu yang belum kamu ketahui. Entah apa yang akan terjadi bila kamu mengetahuinya Mas. Yang jelas apa pun itu kamu akan mengetahuinya" batinku dalam hati, mencoba menahan emosiku, birahiku dan rasa hornyku ketika aku dalam pelukannya.

Mataku terpejam cukup lama dalam pelukannya dan aku tak mau ini berakhir.

Yang aku mau Mas Rahmat mengetahui diriku utuh tanpa ada yang aku sembunyikan. Segera aku akan memberitahukannya.

Ya segera........

Aku dan Mas RahmatTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang