Setelah seminggu penuh Araby menunggu, akhirnya weekend pun tiba.
Karena minggu kemarin, Nova telah berjanji untuk kembali lagi ke rumah ini dan tinggal bersamanya dan Aya.
Araby sedang sibuk dengan peralatan dapurnya, dengan sang anak yang ia tidurkan di atas stroller yang tidak jauh dari posisinya berada.
Araby dengan semangat menyiapkan hidangan spesial untuk makan siang kali ini.
Jam telah menunjukkan pukul 11.30, akhirnya bahan mentah kini telah berubah menjadi hidangan yang tampak nikmat untuk disantap.
Araby menyajikannya di atas meja kaca panjang yang tidak jauh dari dapur berada, lalu menutupnya dengan tudung saji transparan agar makanan terlindungi dan tidak cepat dingin.
Setelah tuntas dengan urusan dapurnya, kini girilan ia yang harus mandi dan bersiap. Ia mau tampil baik di depan Nova.
Araby memindahkan sang buah hati di tempat tidur dan memastikan bahwa sang anak tertidur dengan lelap agar dirinya bisa mandi dengan tenang.
Nova's POV.
Hari Sabtu yang terik ini ku habiskan setengah jam di jalanan.
Aku sepakat untuk tinggal kembali bersama Araby selama 6 bulan. Sebenarnya aku bingung dengannya. Bukannya ini yang ia mau? Melahirkan anaknya, bercerai denganku, dan menikah dengan pria yang ia cintai. Mengapa ia malah mempersulit impiannya sendiri?
Aku menghela nafas kasar. Tenanglah, ini akan berakhir hanya dalam 6 bulan kan?
"Bibi tapi udah pernah ketemu sama Araby belum sih Bi?" Tanyaku kepada bi Asih yang duduk tenang di sampingku.
"Udah Den, kan pas Aden nikahan ada Bibi." Jawab bi Asih.
Bi Asih ini adalah ART yang bekerja di rumahku. Bahkan bi Asih juga yang mengurusku sejak kecil. Pokoknya bi Asih ini orang yang paling mamah dan papah percaya. Maka dari itu, mamah memutuskan untuk mengirim bi Asih bersamaku agar ia bisa membantu pekerjaan rumah dan sekalian membantu menjaga Aya.
__________
Sesampainya di depan rumah, aku langsung keluar dan membuka gerbang di depan.
Rumah ini memang tidak memiliki penjaga ataupun petugas lainnya. Hanya aku dan Araby yang sebelumnya tinggal di sini. Walaupun rumahnya cukup besar, tetapi Araby tidak suka jika harus dikelilingi oleh orang-orang yang tidak ia kenal.
Ku parkirkan mobilku di dalam garasi, di samping mobil putih milik Araby. Araby memang memiliki mobil sendiri, tapi ia sepertinya terlalu malas untuk menyetir sendiri.
Setelah puas dengan posisi mobilku. Aku langsung mengajak bi Asih untuk keluar dari mobil dan membantunya untuk mengambil barang-barangnya dan juga mengambil barang-barangku.
Setelah masuk ke dalam rumah, kami langsung disambut oleh senyuman manis yang bisa membuatku gila kapan saja--Araby yang sedang menggendong anaknya maksudku.
Araby tersenyum lembut menyambut kami. "Hai, maaf ya ga bisa bantuin." Ucapnya tidak enak melihat kami.
"Udah, gapapa non." Ucap bibi menjawab ucapan Araby.
Araby lanjut tersenyum mendengar itu, lalu ia mengganti posisi gendongannya menjadi satu tangan dan mengulurkan tangannya kepada bi Asih. "Saya Araby Bi."
Bi Asih langsung menyambut uluran tangan itu. "Panggil aja Bi Asih non. Saya ditugasin sama ibu buat bantu-bantu non Araby di sini."
Setelah membereskan barang-barang di kamar masing-masing, Araby menuntunku dan bi Asih untuk segera makan siang.
"Aduh non, bibi jadi ga enak dimasakin gini." Ucap bibi sambil menarik kursi untuk duduk bergabung bersama kami.
"Gapapa Bi, aku akhir-akhir ini lagi suka masak." Ucap Araby terkekeh sambil mempersilahkan.
Saat aku ingin mengambil nasi, tiba-tiba Araby langsung mengambil alih centong dan meminta piringku untuk ia isi dengan nasi. "Sini piring kamu, biar aku ambilin."
"Hah?" Beo . Aku bingung. Oh tolonglah, aku seperti orang bodoh yang tidak mengerti apapun.
"Aduh den, itu mau diambilin sama istrinya malah bengong." Serobot bi Asih yang langsung mengambil piringku lalu memberikannya kepada Araby.
Araby tersenyum menerima piringku dari bibi lalu segera mengambilkan nasi beserta lauk ke atas piringku.
"Aku masakin kamu teriyaki kesukaanmu." Ucapnya tersenyum sambil memberikan piring yang sudah penuh itu. Aku tersenyum dan segera menerimanya.
"Waduh, romantis banget ya non. Bibi jadi keinget suami." Ucap bibi sambil tertawa geli.
Araby terkekeh mendengar itu. "Emang suami bibi sekarang di mana?" Tanya Araby sambil menyuap makanannya.
Bi Asih menelan makanannya lalu menjawab. "Suami saya mah masih di rumahnya si Aden, Non."
"Loh, kok engga diajak ke sini? Ga boleh ya sama mamah?" Tanya Araby kembali.
Bi Asih mengerutkan keningnya. "Katanya Non ga suka ada orang di rumah? Jadi kata ibu saya aja yang kesini bantuin."
"Gapapa kok, biar Bibi ada temennya juga di sini, nanti bosen lagi gaada yang nemenin tidur." Ucap Araby dengan nada menggoda.
Bibi terkikik mendengar godaan itu. "Aduh makasih non, nanti saya bilangin ya ke ibu, biar si Abah jagain di sini. Bisa juga kalau mau disetirin kemana-mana."
"Nah boleh tuh Bi. Aku kalau kemana-mana sukanya disetirin, males kalau nyetir sendiri."
Suasana di ruang makan sangat ramai karena kehadiran Bi Asih. Untung saja ada Bi Asih di sini, kalau tidak aku yakin kini situasinya akan sangat berbeda.
Bi Asih orangnya memang sangat menyenangkan. Dia juga asik untuk diajak mengobrol. Sejak dulu, aku suka sekali curhat kepada Bi Asih. Selain dia bisa menjaga rahasiaku, Bi Asih juga adalah pendengar yang baik, ia akan memberikan saran dan pendapatnya. Itu sebabnya aku selalu percaya kepadanya.
Aku keluar kamar mandi dengan rambut basah yang sedang ku gosok acak menggunakan handuk. Ku kenakan setelan piyama biru cerah bergaris putih dengan bahan lembut.
Setelah selesai mengeringkan rambut dan memberi tubuhku sedikit lotion, aku beranjak naik ke atas kasur dan mulai menyusun laporan untuk besok.
Tok tok tok tok.
"Iya sebentar!" Teriakku pada orang di luar yang baru saja mengetuk pintu.
Ku buka pintu kamarku.
"Araby?" Aku mengernyit heran ketika mengetahui Araby lah yang tadi mengetuk pintu kamarku. Sedang apa dia?
"Em... Hai. Kamu lagi apa? Ganggu ga?" Jawabnya sambil terlihat malu-malu.
Sikapnya akhir-akhir ini memang sangat aneh.
"Enggak sih, udah mau tidur." Jawabku masih dengan memperhatikan tingkah anehnya.
"Kamu.... Mau tolongin aku bentar ga?"
Aku menatapnya sebentar lalu menjawab. "Bantuin apa?" Tanyaku singkat.
"Aku mau mandi. Kamu boleh ga jagain Aya sebentar?" Jelasnya.
Ku perhatikan gerak-geriknya. Dia kenapa sih? Dari tadi ia seperti orang yang tidak tenang. Matanya bolak-balik menatapku dan lantai, jangan lupakan ia yang sedari tadi memainkan jari-jarinya.
"Emang Bi Asih gaada? Minta tolong aja sama Bi Asih." Ucapku cepat.
"Bi Asih kan baru hari pertama di sini, jadi aku pikir biarin aja dia beres-beres barangnya dulu."
Aku menghela nafas panjang. Dasar banyak mau.
"Yaudah, mana Aya nya?" Ucapku pasrah.
Ia tersenyum sumringah mendengar jawabanku. "Aya nya lagi tidur di kamar. Yuk ke kamar!" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya untuk ku gandeng.
Aku menatap tangan yang melayang di udara dan wajahnya secara bergantian.
Araby tetap mencoba tersenyum kala tangannya tidak kunjung ku sambut. Ia pun menarik tangannya kembali.
"Yuk." Ajaknya lagi tetapi kali ini ia langsung berjalan menuju kamarnya yang tidak jauh dari kamarku.
Ku ikuti langkahnya menuju kamar utama di rumah ini.
Araby membuka pintu perlahan, dan mempersilahkanku untuk masuk.
Kamar tidur dengan cat abu-abu putih pun terlihat. Kamarnya lebih luas dari kamarku, karena memang dulu aku memutuskan mengalah dan tidur di kamar yang lain.
Di atas kasur besar yang menjadi tokoh utama dalam ruangan ini, sosok manusia kecil sedang asik bergelut dengan mimpinya.
"Tolong jagain dia ya. Kamu ikut tiduran aja gih." Ucap Araby sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kamar mandi.
Aku menatap bayi itu, lalu ikut membaringkan tubuhku di sampingnya.
Aku berbaring miring menghadap Aya. Kepalaku bertumpu pada tangan kanan. Sesekali ku elus wajah lembut bayi di depanku ini.
Araby keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bathrobenya.
Ia membuka lemarinya dan mulai memakai bajunya.
Tunggu dulu. Kenapa dia membuka bathrobenya di sini? Tepat di depan mataku!
Aku melongo sebentar melihat punggung putih bersih yang perlahan terlihat seraya Araby membuka jubah mandinya.
Aku mengerjapkan mataku cepat. Aku langsung mengubah posisiku menjadi terlentang.
Astaga harus apa aku sekarang? Haruskah aku kabur dari sini? Sialan sekarang aku malah panik sendiri.
Ya, aku harus pergi dari sini sekarang juga.
Saat ingin beranjak dari kasur.
Oek oek oek.
Aku menutup mataku dan menghela nafas pelan.
Aduh dek, kenapa nangisnya harus sekarang sih?
Aku langsung kembali menghadap Aya dan menepuk-nepuknya pelan. Sebisa mungkin aku mengabaikan pemandangan lain di ruangan ini.
"Aduh, sebentar ya sayang." Ucap Araby di seberang sana.
Duh aku harus apa? Aya semakin kencang menangis di sini.
"Aduh sayang. Haus ya kamu? Sabar ya." Akhirnya Araby selesai dan mulai menghampiri kami.
Ia ikut berbaring di depanku, di samping Aya yang sekarang menjadi pembatas kami.
Araby mulai menurunkan gaun tidurnya di area dada. Dan mengeluarkan sesuatu yang pasti semua orang akan suka. Apalagi Aya yang sudah dari tadi merengek memintanya.
Oh astaga.... Apalagi ini ya tuhan.
Sebisa mungkin ku alihkan pandanganku ke lain arah. Ku rasakan telinga serta wajahku sudah memerah.
Araby mungkin melihat gerak-gerikku yang tidak nyaman. Ia memegang tanganku. "Nova, kamu-"
Aku kaget dengan sentuhannya di tanganku, dan langsung menarik tanganku."U-udah kan? Aku mau tidur." Ucapku memotong ucapannya.
Aku langsung bangkit dan berjalan secepat mungkin keluar dari ruangan ini.
•
•
•
•
•
Thank you.
Halo teman-teman ahel!
Happy new year semuanya 😻😻 hope everything will be better this year ya (Semoga cerita ini cepet selesai).
Huhuhu maaf yaaa, ahel lupa update, tadinya mau update pas malam tahun baruuu, tapi ternyata ahel ada acara dan ga sempet + lupa buka aplikasi ini.