×
Swipe up untuk membaca artikel
Olahraga

Menanti Presiden Jokowi di Kolam Renang

17 Agustus 2015   20:21 Diperbarui: 17 Agustus 2015   20:21
168
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Aku mulai latihan renang sejak kelas 1 SD, dulu mau ikut klub tapi klubnya lagi vacuum. Jadi aku beralih bergabung dengan klub badminton berlatih sejak kelas 2 SD sampai kelas 5 SD, tapi masih tetap latihan renang seminggu dua kali. Setelah kelas 6 SD papaku memutuskan aku berhenti berlatih badminton walaupun aku sudah berprestasi di propinsi. Sekarang aku serius berlatih renang karena berlatih renang membuat badan menjadi sehat dan membentuk postur tubuh. Latihan badminton sangat menguras waktu dan melelahkan aku selalu tertidur dimobil kalau pulang latihan, tempatnya jauh, tidak bisa ikut bimbingan belajar dan kursus bahasa inggris. Sekalipun Latihan renang tiap hari tidak membuatku lelah , masih bisa mengikuti kegiatan yang lain. Latihan renang memacu aku untuk belajar bahasa inggris karena suatu saat papa mau mengirim aku mengikuti camp training di luar negeri.

Setelah latihan renang serius aku baru tahu kalau atlit renang tidak hanya modal baju renang, banyak alat yang harus dimiliki untuk berlatih berenang di dalam kolam dan di luar kolam, alat alat itu tidak murah harganya dari ratusan ribu bahkan sampai puluhan juta seperti, paddle, tali beban, kick board , fin, monofin, snorkel ada juga meja untuk latihan beban yang harganya bisa puluhan juta. Belum lagi kalau bertanding harus mengeluarkan biaya yang sangat besar seperti membeli tiket pesawat, hotel yang layak untuk atlit, kalau bertanding harus memakai baju standard yang harganya jutaan kalau pakai baju renang sembarangan bisa didiskualisfikasi. Belum lagi kalau atlet gagal mencapai limit waktu juga harus bayar denda ratusan ribu rupiah. Jangan lupa suplemen yang harus diminum selama latihan menjelang bertanding harganya jutaan juga.

Para atlet renang dan orang tuanya tentu tahu berapa besar biaya yang dikeluarkan orang tua kalau mau membuat anaknya jadi atlet renang breprestasi. Tentu tidak bisa disamakan dengan atlet sepak bola, mana ada atlet sepakbola berangkat bertanding naik pesawat dan nginep di hotel bayar sendiri. Mana ada atlet sepakbola kalau kalah di denda ? Peralatanpun paling mereka cuma beli sepatu dan bola saja, ngak ada yang didiskualisfikasi karena kaosnya sembarangan. Pengorbanan pemain sepakbola dan keluarganya tentu tidak sebanding dengan pengorbanan atlet renang dan keluarganya.

Baru baru ini di solo Jawa Tengah diadakan kejurnas renang kelompok umur banyak para atlet yang berangkat dengan biaya sendiri. Biaya kejuaraan renang itu Rp 200 juta, tetapi Persatuan Renang Seluruh Indonesia dan pemerintah daerah solo tidak mampu untuk membiayainya. Pada saat yang sama ada turnamen sepak bola kemerdekaan presiden memerintahan untuk hadiahnya dinaikkan. Juara 1 sebelumnya Rp 500 juta menjadi 1,5 milliar, juara 2 Rp 300  juta menjadi 1 milliar, juara 3 Rp 200  juta menjadi Rp 750  juta.

Ini menunjukan presiden kurang memperhatikan cabang cabang olahraga yang lain seperti renang, atletik, dan senam. Padahal olah raga ini banyak menyumbang medali emas pada saat pesta olahraga antar negara seperti SEA Games atau Asian Games. Seharusnya presiden lebih memperhatikan cabang olahraga ini, kalau uang sebanyak yang diberikan di turnamen sepak bola Piala Kemerdekaan itu di berikan untuk membina renang, atletik dan senam pasti hasilnya akan lebih baik. saya yakin renang, atletik dan senam akan terus menyumbang medali emas bukan seperti sepak bola yang sangat buruk prestasinya. Jika presiden mau memperhatikan cabang olahraga renang, atletik, dan senam peringkat Indonesia di SEA Games, Asian Games akan lebih baik lagi. Bendera Indonesia dan Lagu Indonesia akan berkali kali berkibar dan berkumandang Sea games dan Asian games. Di cabang renang bisa saja Indonesia memiliki perenang kelas dunia seperti Singapore punya Ang Peng Siong di masa lalu dan Joseph Isaac Schooling .

Kami tahu pak Presiden Jokowi suka blusukan ke tempat tempat yang bermasalah, kami harap pak Jokowi mau blusukan ke tempat para atlet berlatih berenang, atletik,dan senam. Para atlet renang di manapun juga termasuk saya menunggu Pak Presiden Jokowi di Kolam renang.

 

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H


Lihat Konten Olahraga Selengkapnya
Lihat Olahraga Selengkapnya


BERI NILAI
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
Yos Mo
Yos Mo
Inspiratif
Arum Sato
Arum Sato
Menarik
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

  • avatar
    Yos Mo
    18 Agustus 2015   12:549 tahun lalu

    ooh iya, kebetulan saya inisiatif mau buat Kompasianer Penggemar Olahraga (KOMPAG) supaya bisa bersama-sama mencuatkan cinta olahraga di Indonesia lewat Kompasiana. Shiloh Lumaris tolong diapprove permintaan pertemananku, biar dirimu bisa bergabung ke grup KOMPAG. Thanks :))

Lihat Semua Komentar (3)
Laporkan Konten
Laporkan Akun
LAPORKAN KONTEN
Alasan