TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Minang Mart Dinilai Melenceng dari Konsep

Administrator
Kamis, 29 September 2016 | 02:36 WIB

PADANG, HALUAN — Kon­­­sep Minang Mart yang di­lun­curkan oleh Gubernur Su­­matera Barat (Sumbar), Ir­wan Prayitno sebagai upaya pe­­merintah untuk bisa mela­ku­­kan intervensi harga pa­sar, guna mengantisipasi in­fla­si akibat barang kebu­tu­han pa­ngan, mulai melen­ceng.

“Konsep awal Minang Mart patut diacungi jempol, ka­rena dengan melibatkan ti­ga BUMD, dinilai bisa me­ning­katkan harkat dan mar­ta­bat UMKM di Sumbar, se­kaligus perpanjangan ta­ngan pemerintah daerah untuk bisa mengintervensi harga pasar jika terjadi gejo­lak di pasar. Tetapi dalam perja­lanannya banyak yang me­len­ceng,” ujar Asosiasi Pe­ngu­saha Ritel Sumbar Gus­par­di Gaus di Padang, Rabu (28/9).

Menurutnya, pada kon­sep awal Minang Mart Pem­prov Sumbar menyinergikan tiga BUMD masing-masing PT Grafika, PT Jamkrida dan Bank Nagari, untuk menja­lankan program tersebut, tetapi kemudian, ternyata muncul pihak ketiga selaku pemilik modal yang turut serta dalam pengelolaan program ini.

“Ini sudah melenceng jauh dari konsep awal. Seba­gai pemilik program, peme­rintah harus mau jujur pada masyarakat. Siapa pihak ke­tiga ini, “makhluk” yang tiba-tiba datang dengan nama PT Ritel Modren Mi­nang (RMM) ini, motivasi­nya apa, tujuan apa. Kami mendorong komisi III DPRD Sumbar untuk melak­sana­kan dengar pendapat dengan memanggil Pemprov Sum­bar,” tuturnya.

Sejak awal, kata Gus­pardi, pihaknya memang sudah menyangsikan ke­mam­puan PT Grafika yang ditunjuk sebagai pengelola program Minang Mart, kare­na sektor bisnis ritel berbeda dengan bisnis percetakan yang digeluti PT Grafika selama ini.

Polemik pengembangan Minang Mart, muncul sete­lah masyarakat mengetahui bahwa program itu ternyata tidak dikelola oleh BUMD seperti konsep awal, tetapi diserahkan pada swasta, yai­tu PT RMM.

Masyarakat yang semula menjadi elemen penting dalam konsep Minang Mart, seakan-akan tiba-tiba ter­ping­girkan, digantikan oleh swasta. Tidak tanggung-tanggung, hingga akhir 2016, PT. Ritel Modren Minang (RMM) disebut siap untuk meluncurkan 30 ritel di Padang.

Direktur PT Grafika Jaya Sumbar, Dasril yang semula didaulat sebagai pengelola Minang Mart dalam konsep Gubernur Irwan Prayitno mengakui keterlibatan PT RMM dalam pengelolaan Minang Mart di Sumbar.

Ia mengemukakan keter­li­batan pihak ketiga yang berpengalaman dibutuhkan untuk akselerasi program tersebut agar tidak jalan di tempat. “Ini adalah upaya kami untuk secepatnya bisa ber­hasil dalam program Mi­nang Mart ini,” ucapnya.

Ia menjelaskan, usaha ri­tel yang dibangun oleh PT RMM tersebut akan dija­di­kan sebagai percontohan ba­­­gi masyarakat yang ingin ber­­gabung dalam Minang Mart.

“Masyarakat bisa melihat dan mencontohnya. Nanti, ka­mi juga akan lakukan pen­dampingan pada masya­ra­kat tersebut. Sekarang su­dah ada 600 masyarakat yang berkeinginan berga­bung dengan Minang Mart dan sedang dievaluasi,” ka­ta­nya.

Terkait kecurigaan fasili­tas pemerintah yang dibe­ri­kan kepada PT RMM, Das­ril membantahnya. Ia menya­ta­kan tidak ada pemberian fa­silitas khusus pada PT RMM tersebut. Ia menga­ta­kan, sumber daya dan ang­garan yang digunakan oleh PT tersebut murni in­ves­tasi, tidak berkaitan de­ngan PT Jamkrida atau Bank Nagari.

“Mereka membawa mo­dal sendiri. Tidak ada kredit dari Bank Nagari atas Jami­nan Jamkrida. Bahkan, sa­king profesionalnya, kami di PT Grafika juga tidak bisa intervensi penerimaan karya­wan PT RMM itu,” katanya.

Sementara itu, Direktur PT RMM, Syaiful Bahri me­nam­bahkan, toko Minang Mart milik perusahaannya yang akan luncurkan dalam waktu dekat adalah 9 unit. Pertama di LubuK Begalung, Padang, kemudian menyu­sul di lokasi lain, ujarnya.

Ia juga membantah men­da­patkan fasilitas dari Pem­prov Sumbar. Menurutnya, gedung pemerintahan yang digunakan pihaknya di sam­ping PT Jamkrida Sumbar itu hanya pinjaman, menje­lang kantor mereka selesai dibangun.

Menurutnya, semua pi­hak yang tergabung dalam PT RMM itu adalah orang professional, meski ia me­nga­kui PT tersebut baru didirikan setelah konsep Minang Mart diluncurkan.

Irwan Prayitno usai meng­hadiri acara diskusi terkait PLTMH di aula gu­ber­nuran beberapa waktu lalu, menegaskan program Minang Mart sekarang su­dah berada pada tataran bis­nis, karena itu, urusannya langsung ditangani oleh PT Grafika. “Tidak adalagi Pem­prov da­lam hal ini,” kata­nya. (h/ans)

Halaman:
1
2

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terpopuler

Terkini

x