JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Asian Productivity Organization (APO) Shigeo Takenaka, di Jakarta, Senin (15/6), mengatakan, Eco Products International Fair (EPIF) difokuskan pada isu lingkungan.
Ia mengatakan pada kenyataannya dalam industri ternyata tidak cukup hanya memfokuskan pada peningkatan produktivitas karena peningkatan produktivitas mempunyai implikasi terhadap aspek lingkungan dan ketersediaan sumber daya alam.
Untuk itu, ia menambahkan, EPIF merupakan implementasi dari konsep "green activity" yang digagas oleh APO. Konsep "green activity" sendiri lahir pada tahun 1994, yaitu konsep yang melakukan pengembangan berkelanjutan dalam industri.
Pada tahun 2004, EPIF pertama kali diselenggarakan di Malaysia dan diselenggarakan pada tahun-tahun berikutnya di negara-negara Asia Pasifik yang tergabung dalam APO. Lewat EPIF, kata Takenaka, APO berusaha meningkatkan produktivitas barang dan jasa dengan tetap memelihara lingkungan.
Hal itulah yang disebut dengan pengembangan berkelanjutan dalam produktivitas barang dan jasa atau kesinambungan produksi dan konsumsi untuk masa depan bersama.
Takenaka mengatakan, pada perkembangannya, EPIF menaruh perhatian pada produk-produk ramah lingkungan, industri ramah lingkungan, teknologi yang juga ramah lingkungan, serta membangun kesadaran masyarakat sebagai konsumen untuk mengkonsumsi produk-produk yang ramah lingkungan.
Mengenai perkembangan "eco product" di Indonesia, Wakil Ketua Umum KADIN bidang lingkungan hidup, Dewi Motik, mengatakan KADIN mensosialisasikan peningkatan "law enforcement" terhadap semua produk, misalnya produk-produk pertambangan, tekstil, dan produk lain, supaya produk-produk tersebut tidak merusak lingkungan. "Produk-produk itu harus mempunyai label 'eco'," kata Dewi Motik.